Menggali Makna Kidung Jawa: Rahasia Ketenangan Batin dan Warisan Luhur untuk Generasi Z

Di tengah gempuran budaya global, tembang Jawa tetap kokoh sebagai pilar kearifan lokal yang kaya akan nilai-nilai luhur. Salah satu yang paling terkenal adalah “Kidung Rumeksa ing Wengi,” sebuah syair kuno yang bukan sekadar lantunan melodi, melainkan sebuah panduan spiritual dan filosofis. Artikel ini akan mengupas tuntas makna mendalam dari kidung ini, pesan moral yang terkandung di dalamnya, serta bagaimana Generasi Z dapat merangkul dan melestarikan warisan budaya ini dengan bangga.

“Kidung Rumeksa ing Wengi”: Pelindung di Malam Hari

Judul kidung ini, “Kidung Rumeksa ing Wengi,” secara harfiah berarti “syair yang melindungi di malam hari.” Tembang ini merupakan doa perlindungan dan ketenangan, yang dipanjatkan saat malam tiba, waktu di mana batin sering kali gelisah dan pikiran tak menentu. Kidung ini diberi nama ‘Rumekso Ing Wengi’ dan dipercaya diciptakan Sunan Kalijaga. Kidung ini mengajarkan kita untuk mencari ketenangan bukan dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Dengan merenungkan setiap liriknya, kita diajak untuk melepaskan kekhawatiran dan membiarkan hati beristirahat dengan damai.

Teguh Hayu Luputa ing Lara: Kekuatan Iman dan Kesejahteraan

“Teguh Hayu Luputa ing Lara” adalah salah satu bait paling populer yang menjadi inti filosofis dari kidung ini.

  • Teguh: Berarti teguh, kokoh, dan tidak mudah goyah. Ini merujuk pada keteguhan hati, keyakinan, dan prinsip hidup yang kuat.
  • Hayu: Berarti selamat, sejahtera, dan penuh keberuntungan.
  • Luputa ing Lara: Berarti terhindar dari penyakit dan bahaya.

Bait ini secara keseluruhan mengandung pesan bahwa dengan memiliki hati yang teguh dan iman yang kuat, kita akan mencapai keselamatan dan kesejahteraan, baik secara fisik maupun spiritual. Ini bukan sekadar tentang perlindungan dari penyakit fisik, tetapi juga perlindungan dari “penyakit” batin seperti iri hati, dengki, dan keserakahan. Jadi kita betul-betul diajak untuk sehat secara holistik, keseluruhan jiwa raga.

Bunyi Kidung ‘Rumekso ing Wengi’  secara keseluruhan Adalah:

Ana kidung rumekso ing wengi. Teguh hayu luputa ing lara. luputa bilahi kabeh. jim setan datan purun. paneluhan tan ana wani. niwah panggawe ala. gunaning wong luput. geni atemahan tirta. maling adoh tan ana ngarah ing mami. guna duduk pan sirno

Artinya: Ada sebuah kidung doa permohonan keselamatan di tengah malam. Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setan pun tidak mendekat. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat orang. Sihir guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuri menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap.

Sakehing lara pan samya bali. Sakeh ngama pan sami mirunda. Welas asih pandulune. Sakehing braja luput. Kadi kapuk tibaning wesi. Sakehing wisa tawa. Sato galak tutut. Kayu aeng lemah sangar. Songing landhak guwaning. Wong lemah miring. Myang pakiponing merak.

Artinya: Semua penyakit kembali ke tempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh di besi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Kayu sakti, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Pagupakaning warak sakalir. Nadyan arca myang segara asat. Temahan rahayu kabeh. Apan sarira ayu. Ingideran kang widadari. Rineksa malaekat. Lan sagung pra rasul. Pinayungan ing Hyang Suksma. Ati Adam. Utekku baginda Esis. Pangucapku ya Musa.

Artinya: Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua selamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam. Otak ku Nabi Sis. Ucapanku adalah Nabi Musa.

Napasku nabi Ngisa linuwih. Nabi Yakup pamiryarsaningwang. Dawud suwaraku mangke. Nabi brahim nyawaku. Nabi Sleman kasekten mami. Nabi Yusuf rupeng wang. Edris ing rambutku. Baginda Ngali kuliting wang. Abu Bakar getih daging Ngumar singgih. Balung baginda ngusman.

Artinya: Nafasku Nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakub pendengaranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi rambutku. Ali sebagai kulitku. Abu Bakar darahku dan Umar dagingku. Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumingsun Patimah linuwih. Siti aminah bayuning angga. Ayup ing ususku mangke. Nabi Nuh ing jejantung. Nabi Yunus ing otot mami. Netraku ya Muhammad. Pamuluku Rasul

Pinayungan Adam Kawa. Sampun pepak sakathahe para nabi. Dadya sarira Tunggal.

Artinya: Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti Aminah sebagai kekuatan badanku. Nabi Ayub ada di dalam ususku. Nabi Nuh di dalam jantungku. Nabi Yunus di dalam otakku. Mataku ialah Nabi Muhammad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

Pesan Moral dan Falsafah Luhur dalam Kidung Jawa

Kidung Jawa, termasuk “Kidung Rumeksa ing Wengi,” tidak hanya berisi kata-kata indah. Terdapat falsafah hidup yang mendalam yang masih relevan hingga kini:

  1. Keteguhan Iman dan Doa: Kidung ini mengajarkan pentingnya mendekatkan diri kepada Tuhan atau kekuatan spiritual. Doa dan keyakinan adalah sumber kekuatan terbesar saat menghadapi kesulitan.
  2. Keseimbangan Batin: Falsafah Jawa sangat mementingkan keseimbangan (harmoni) antara dunia fisik dan spiritual secara holistik. Kidung ini membantu mencapai keseimbangan tersebut dengan menenangkan jiwam raga, dan sukma.
  3. Kesederhanaan dan Kebersyukuran: Makna yang tersirat dalam kidung ini mengajarkan kita untuk hidup sederhana, bersyukur, dan tidak terlalu terikat pada hal-hal duniawi.
  4. Menghargai Waktu Malam: Dalam budaya Jawa, malam hari adalah waktu untuk introspeksi diri dan kontemplasi. Kidung ini menjadi pengingat untuk memanfaatkan waktu malam untuk refleksi dan mencari kedamaian.

Adat Istiadat dan Budaya Jawa yang Terkandung

Kidung ini tidak bisa dilepaskan dari konteks adat istiadat Jawa yang mengakar kuat. Penggunaan bahasa Jawa kuno dan ritme yang khas mencerminkan kehalusan budi dan tata krama Jawa. Kidung ini sering kali dilantunkan dalam tradisi semedi (meditasi) atau sebagai bagian dari ritual tertentu, yang menunjukkan betapa budaya Jawa sangat menghargai ritual dan spiritualitas.

Saran untuk Generasi Z: Merangkul Budaya dengan Bangga

Sebagai Generasi Z, kalian memiliki peran penting dalam melestarikan warisan budaya ini. Jangan biarkan budaya adi luhung Indonesia hanya menjadi sejarah. Berikut beberapa saran untuk Gen Z agar semakin mencintai dan bangga akan budayanya:

  1. Mulai dengan yang Paling Dekat: Cari tahu makna dan arti dari tembang atau kidung Jawa yang sering kalian dengar. Dengarkan lantunan tembang, gamelan etnik Jawa yang modern maupun yang mengadaptasi melodi tradisional.
  2. Gunakan Media Digital: Manfaatkan platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram untuk membuat konten kreatif yang memperkenalkan budaya Jawa. Buat video pendek tentang makna “Kidung Rumeksa ing Wengi” atau bagikan kutipan-kutipan bijak dari falsafah Jawa.
  3. Bergabung dengan Komunitas: Ikutlah sanggar tari, komunitas karawitan, atau grup yang fokus pada budaya Jawa. Belajar langsung dari ahlinya akan memberikan pengalaman yang lebih berharga.
  4. Hadiri Acara Budaya: Datang ke pertunjukan wayang kulit, ketoprak, atau acara-acara lain yang menampilkan kesenian tradisional. Ini akan membuka mata kalian terhadap kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini.
  5. Baca dan Pahami Sejarah: Kenali tokoh-tokoh penting dalam sejarah dan budaya Jawa, seperti Wali Songo atau Pangeran Diponegoro, yang memperjuangkan nilai-nilai luhur.

Bangga menjadi warga negara Indonesia yang kaya akan budaya adi luhung adalah sebuah anugerah. Dengan melestarikan dan memahami budaya sendiri, kita tidak hanya menghargai leluhur, tetapi juga membangun identitas yang kuat dan unik di panggung dunia.

Recent Posts